gamis anak perempuan

Akan Selalu Ada Desah di Bilik Asmara

Bilik Asmara

"Ah...."Terdengar desah di bilik asmara.

Sekarang pukul 19.00 jadwalnya bung Tonah dan istri cantiknya masuk bilik asmara, bilik yang sekarang sudah resmi ada di penjara dan diijinkan peraturan karena permintaan resmi istri-istri para pesakitan kasus penyalahgunaan uang negara.

Rata-rata pesakitan kasus beginian istrinya cantik-cantik dan perawatan tubuhnya baik, karena walau disana-sini harta suami mereka sudah dipreteli, tetap saja ada dana tersedia untuk perawatan tubuh, wajah dan hidup yang sedikit di atas rata-rata, entah dari mana rekeningnya.

Kalau mereka hanya boleh berkunjung dan berbicara dengan suaminya 5-10 menit, maka hanya akan bikin si suami 'konak' saja dan tidak mampu menyalurkan hasrat kerinduannya.

"Ahhhhh...."Kembali suara Tonah terdengar dari bilik asmara, kali ini lebih panjang lalu diam.

Ya, semua sipir sudah memperkirakan apa yang terjadi disana kala kedua insan berlainan jenis dan terikat perjanjian nikah sudah berdua-dua.

Bilik asmara 'resmi' ini setengah digerutuhi oleh para penjaga, karena keresmiannya. Ada kamar 3x3 disulap menjadi kamar tidur nyaman lengkap dengan sprei bersih, bantal dan kasur springbed-nya dengan kipas angin yang lumayan menyejukkan suasana. Semuanya fasilitas negara dan diberikan gratis. Sekali lagi gratis!

"Dulu waktu tidak ada peraturan bilik asmara begini, setiap besakitan yang mau 'begituan' dengan 'wanitanya', harus bayar kamar 600 ribu perjam."Kata si sipir pada wartawan Kompaknianlah.

"Wanitanya?Istrinya maksudnya?"Tanya si wartawan penasaran.

"Pak Tonah kan 'play boy', wanitanya banyak. Kadang yang datang istrinya, tetapi kadang juga wanita lainnya, hehehehe."Si sipir tertawa, si wartawan melongo.

"Banyak yang seperti pak Tonah, bayar 'upeti' bilik asmara begini?"Tanya si wartawan tak resmi itu lagi.

"Yang kasus-kasus kejahatan ekonomi sih rata-rata seminggu sekali mesan. Uangnya disetor ke kita, lalu kita-kita bagi-bagi ke atasan dan teman-teman lainlah, hehehehe."

"Sekarang?"

"Gratis, jadi repot. Semua tahanan minta jadwal. Jadi terpaksa dibatasi hanya yang punya istri saja dan hanya sebulan satu kali. Sprei bersih hanya disediakan 5 sehari, jadi kalau ada yang mau ke 6 resikonya sprei bekas tahanan lainnya."Katanya ketus.

"Ada yang masih minta bilik asmara jalur khusus lagi?"Tanya si wartawan ingin tahu.

"Ada, tetapi tidak berani, karena sudah ada 'CCTV' mengamati semua ruang tahanan dan tahanan lain bisa melapor. Kalau ketahuan lagi ada pungli, kami diancam akan dipecat lalu dituntut penjara dan penjaranya di tempat kami sebelumnya kerja, jadi resiko dianiaya tahanan lain sangat besar."Katanya bergidik ngeri.

"Sudah mas."Istri pak Tonah keluar dari bilik asmara dengan wajah puas. Si sipir tersenyum genit mengangguk-anggukkan kepala maklum. Si wartawan ikut senyum sambil kagum dengan dandanan sang istri yang memakai baju merah tetap rapi walaupun baru setengah jam bersama suaminya di bilik asmara. Dan beberapa bagian baju itu sangat merah, merah menyala.

"Pak Tonah masih di dalam?"Tanya si penjaga bingung, tetapi si istri langsung saja bergegas jalan menuju pintu keluar.

"Pak Tonah, sudah berpakaian,pak?"Tanya si sipir karena sudah 10 menit si Don Juan belum juga muncul. Selanjutnya bergegas dia membuka pintu kamar dan tampaklah pak Tonah terkapar bersimbah darah diatas kasus dengan luka tusukan di dada, perut dan kemaluannya.

Keesokan harinya sang istri mendatangi kantor polisi dan menyerahkan diri.

"Saya sudah cek darah dan saya positif HIV. Bahkan anak saya yang baru lahir pun positif HIV, padahal saya hanya berhubungan badan dengan suami saya Tonah. Saya marah, kalau cuma saya yang HIV tidak apa-apa. Tetapi karena anak saya pun tertular HIV dari proses melahirkan saya sangat marah. Karena itulah saya memohon diberikan aturan resmi bilik asmara. Bukan untuk bercumbu, tetapi untuk membunuhnya."

Pengakuan yang mencengangkan, sangat mencengangkan.

Tetapi karena permohonan dari istri Tonah bilik asmara resmi diadakan,apakah karena pembunuhan Tonah di bilik asmara maka peraturan tersebut serta merta ditiadakan?

Entahlah, karena banyak peraturan terbit memang karena 'hati harian' dan bukan karena hasil kajian penuh kebijaksanaan.